Rabu, 27 Oktober 2010

Punarbhawa ( Reinkarnasi )

2.1 Pengertian Punarbhava
Punarbhawa disebut juga pula dengan Samsara yang artinya kelahiran yang berulang-ulang kedunia ini. Punarbhava berasal dari bahasa sanskerta yang artinya Punar dan Bhava, Punar artinya lagi, berulang-ulang sedangkan Bhava artinya menjadi, menjelma atau lahir. Dengan demikian berarti kalahiranyang berulang-ulang itu dapat berlaku di dunia ini, maupun di dunia lain yang sipatnya halus.

2.2 Penyebab Terjadinya Punarbhava
Punarbhava itu sesungguhnya adalah penderitan yang akan dirasakan oleh setiap mahluk di dunia ini, tetapi di sisi lain punarbhava itu juga merupakan sebagai kesempatan untuk melakukan karma yang baik, adanya punarbhava menurut ajaran agama Hindu disebabkan adanya karmawasana. Karmawasana muncul dari perbuatan manusia, yang di pergunakan sebagai pedoman benar atau salah itu dalam ajaran agama Hindu adalah sabda Tuhan dalam kitab suci. Karma pada masa lampau akan membuat wasana atau bekas pada atman, sehingga dengan demikian muculah punarbhava. Lamanya Punarbhava itu di tentukan banyak sedikitnya wasana yang ada pada atman, bila dilihat dari segi filosofis karma dan Punarbhava itu kedua-duanya adalah suatu proses yang terjalin erat satu dengan yang lain.
Setiap karma yang dilakukan oleh seseorang di dorong oleh pikiran, indria dan nafsu yang tidak sesuai dengan garis kebenaran yang diajarkan oleh agama. Akibat yang ditimbulkan adalah dosa yang harus ditanggung oleh atman maka itu atman lahir kembali (punarbhava) yang semua disebabkan oleh karma itu sendiri. Dalam kehidupan di dunia ini sesungguhnys yang sangat banyak perbuatan yang di liputi oleh sad ripu, sad atatayi, dan sapta timira, akan membawa seseorang dalam penderitan, untuk dapat menghilangkan penyebab Punarbhava itu hendaklah seseorang dapat melenyapkan penyebab penderitan itu sendiri dengan jalan selalu berusaha mawas diri kearah yang benar.

Adapun tangga yang patut ditempuh untuk dapat membebaskan diri dari hukum punarbhava itu adalah kesusilan, dana punya, budi luhur, pengabdian yang suci dan kebajikan itu sendiri. Memang kita sulit membebas diri dari hukum punarbhava kecuali kita bisa melakukan hal-hal yang berdasarkan ajaran agama seperti yang dilakukan orang-orang suci seperti maharsi, itu pun hanya sebagian orang-orang suci yang bisa melakukan, karena masih banyak terikat oleh keduniawian.
Dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan bermasyarakat dapat kita lihat dan kita rasakan, penyebab terjadinya punarbhawa atau kelahiran kembali seperti: Adanya perbedaan kondisi kehidupan manusia di dunia seperti kaya-miskin, bahagia-sengsara, tanpan-cacat, dan sebagainya,walaupun Tuhan / Brahman diyakini bahwa maha adil, pengasih dan penyayang.
Sebab terjadinya Punarbhawa seperti, ingin memperbaiki diri menuju kesempurnaan agar roh dapat mencapai Moksa. Mengenai kebenaran adanya punarbhawa, kitab suci memberikan kesaksian sebagai berikut :
Bahūni me vyatītāni
janmāni tava cārjuna
Tāny aham veda sarvāni
na tvam vettha parantapa.

(Bh. Gita : IV.5)

Artinya :
Banyak kelahirian (kehidupan yang telah kujalani dan demikian pula engkau,
O Arjuna, semua itu Aku ketahui, tetapi engkau tidak dapat mengetahuinya.

2.3 Proses Terjadinya Punarbhava
Terjadinya punarbhava diakibatkan manusia di dunia ini masih melakukan hal-hal yang tidak baik, selalu mencapai atau mencari yang diinginkan melalui cara yang tidak baik, seperti KKN, mencuri milik orang lain, dll. Dikarenakan manusia di dunia ini masih diliputi oleh sad ripu, sad atatayi, sarta timira, makanya punarbhava itu selalu ada dalam diri manusia, akibat perbuatan yang dilakukannya tidak sesuai dengan ajaran agama.
Selain itu juga selama isi bumi masih ada maka proses terjadinya punarbhawa akan tetap ada. Jadi proses terjadinya Punarbhawa, Setelah roh selesai menikmati hasil perbuatan di alam Roh atau Bwah Loka, melahirkan kembali roh tersebut. Kelahiran tersebut seseui dengan hasil perbuatannya. Jikalau roh disertai dengan hasil perbuatan baik, maka akan lahir Sorga yang disebut Swarga Syuta dan menjadi mahluk utama.



oleh I Nengah Sumantre


DAFTAR PUSTAKA

Adiputa, G.R. 2003. Pengetahuan Dasar Agama Hindu. Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara. Jakarta. 113 hal.
Cudamani. 1989. Pengantar Agama Hindu. Paramita. Surabaya.
Tim penyusun. 2004. Pengantar Agama Hindu. Yayasan Dharma Sarathi. Jakarta.
Mustika, I.K. 2007. Rangkuman Agama Hindu Tingkat SMA. SMA Pancasila. Lampung. 82 hal.

2 komentar:

  1. OM Swastyastu, anda turut serta memberikan warna pada pengembangan sradha Hindu,
    bagi yang ingin sharing tentang punarbhawa
    kunjungi http://sucita.co.cc

    BalasHapus
  2. OM Swastyastu,
    trimaksih.
    mari kita sama-sama,bahu membahu supaya Dharma tetap jaya...

    BalasHapus